Ya Sudah, Panggil Saja Tante ….
April 1, 2008 by mmlubid

Beberapa minggu yang lalu, seorang
teman seangkatan saya di SMA, Cep Budiharto, bilang kalau ada murid-muridnya di
SMP 32 yang pengen kenalan dengan saya. Kata doski, ada yang pengen nanya-nanya
tentang astronomi, tentang dunia tulis-menulis (dunia perbukuan kali yee), dan
tentang macam-macam lagi. Saya bilang, okeyyy … siapa tatuuuut. Kan Tante bisa menambah
koleksi brondong, hihihiiii.
Laluuu, beberapa hari yang lalu
(waduh, saya mah udah lupa hari, jadi maafkan kalo nggak inget kapan tepatnya,
hihii), Cep Budi ini menelepon. Katanya, ada murid-muridnya yang ingin ngobrol dengan
saya. Jadilah saya kenalan dengan dua orang murid SMP. Cewek lho. (Kalo berniat
mengijon, silakan minta izin dulu sama Pak Budiharto) Intinya sih cuma kenalan dan
mereka bilang kalau pengen ngobrol sama saya tentang astronomi dan
tulis-menulis (ya, saya memang ahli tulis-menulis dan semakin ahli ketika tak
dinyana bersua dengan para kubugil—tentu saja dalam bidang tulis-menulis
racauan dan hal-hal nggak penting sedunia raya. I’m queen of doing nothing, gitu
whluwokhhh).
Penelepon pertama … berjalan lancar
(meskipun saya lupa namanya siapa karena ngomongnya singkat, perkenalan doang).
Lalu, di sela-sela itu ada suara Pak Guru Budi, “Mar, ini ada satu lagi yang
mau ngomong.” Dan … jengjreng, muridnya Pak Guru Budi itu menyapa saya, “Halo,
TANTE, mau kenalan ya ….”
Hahahahahahahahahahahahahaaaaaa ….
Beneran dah, dipanggil Tante. Saya
langsung ngakak, dan bilang “Waduh, kok dipanggil ‘tante’ sih?” Suara dari sana balas bertanya, “Abis
bingung, manggilnya apa?” Ya saya jawab, “Panggil ‘neneng’ aja, gitu,”
(meskipun bukan Nenenk Anjarwati, hihihiiiii).
Pasti ini gara-gara si Cep Budi. Waktu
telepon sudah dioper ke dia, Cep Budi bilang kalau murid-muridnya juga bingung
mau manggil apa sama saya, trus dia bilang karena saya orang Batak, ya sudah,
panggil “tante” saja.
Awalnya sih masih agak geli gitu
dipanggil “tante” beneran sama anak SMP, hahaha …. Masih berusaha menyangkal
kebijaksanaan yang semakin matang (bukan usia yang semakin tua, hihihiii). Eh,
ternyata muridnya si Pak Cep Budi ini mengirim e-mail ke saya tadi siang. Dan
akhirnya kami YM-an. Namanya Nira, kelas 3 SMP.
Ehhhh … ternyata tetep aja,
dipanggil “tante” lagi, hahahahahaaaa! Cuma, kali ini ya sudah, saya pasrah
saja. Ada dua
alasan, pertama: memang saya punya keponakan seumuran mereka ini, SMP, meskipun
dia nggak manggil “tante” (manggilnya “bou”—dari namboru, saudara perempuan
ayah). Legian keponakan saya yang paling gede juga sudah hampir lulus kuliah
kok … meskipun dia juga nggak manggil “tante”, manggilnya “etek”(saudara
perempuan ibu). Kedua: secara struktur hierarki-hierarkian sih, bener juga.
Mereka murid Cep Budi. Mereka manggil Cep Budi “bapak”. Saya temen Cep Budi. Ya
wajar saja kalau mereka manggil saya “tante”. Meskipun masih geli mendengarnya,
hihihihiiiiii ….
Jadi, akhirnya saya pasrah saja
dipanggil “tante”. Toh meskipun tante-tante, tetap keren kok. Dan tadi, obrolan
kami di YM lucu juga, heheheee… mulai dari bagaimana caranya belajar supaya
lulus UN *jangan belajar terus, main juga harus banyak, begitu jawaban saya,
hihiii*, dulu Tante SMP-nya di mana, dulu Tante mainnya ngapain aja, Tante dulu
ikut les nggak, sampai … dulu Tante pernah naksir sama cowok nggak *dan saya
jawab: ya iyyyyalahhhhh … kecengan mah segudang, gitu, hihihiiii*, dan apakah naksir
cowok itu mengganggu pelajaran? *saya jawab, tergantung. Soalnya dulu saya
malah semangat ke sekolah buat ketemu teman-teman dan kecengan, hahaha …
makanya nggak pernah mabal, meskipun sekolah hanya untuk bersosialisasi*
Sayang tadi saya harus segera pergi
ke warung, karena ada janji dengan T’ Peni. Jadilah obrolan kami terputus
sampai di situ. Setelah mengendapkan peristiwa tadi sebentar, baru muncul suatu
kesadaran: apakah saya malah bikin dia ngaco dengan jawaban-jawaban saya?
Hihihiiiiiiiiii … yah, Pak Cep Budi, mohon maaf sajahhh … saya mah Etty Gadis
Jujur sih, hahahahaha!
Catatan
- Sebenarnya, saya adalah jenis orang yang berpendapat bahwa panggilan tidak berbanding lurus dengan kesopanan dan penghormatan. Nggak masalah kalau saya tiba-tiba ditelepon oleh Daffa, salah seorang keponakan saya, “Hei Dek, lagi ngapain?” (hihii … lalu
ortunya yang panik), atau diceritai si Ambu Vekih kalau Nenk Zahra tiba-tiba
bilang ke abahnya, “Bah, hayu kita ke si Umay!” (hahaha … disebut si Umay
sama gadis muda berusia dua taun euyyy … hahaha) - Kalau punya anak, sebenarnya saya juga pengen dipanggil nama saja, nggak usah pake “ibu” atau “enyak” atau dll. Tapi
entahlah, gimana nanti aja. Anaknya juga belum dibikin! Hihihiiiii …. - Mungkin ini juga sedikit gara-gara kualat, karena
ogah dipanggil Ms. M setelah ada Ms. A, Ms. D, dan Ms. G—malah ingin
dipanggil Tante M saja. - “Cep” pada tulisan di atas bukan bagian dari
namanya Budiharto, tapi sifatnya sama dengan “Neng” atau “Jang”. - Ya sudahlah. Pokoknya saya pasrah dipanggil “Tante”.
Yang penting darahnya masih bergolak seperti anak muda. Hahahahahahaaaaa! - Gambarnya pake foto Mint Sahi alias teh mint hasil karya si Papah Manggis duonk … TETAP JUWALANNNN!!!
Hahahahaha
Rasain…
Kamu baru ngobrol belum lama (dan baru 3 orang, belum semuanya) udah kebingungan…
Saya hampir tiga tahuuuun Maaar! Tapi saya bangga kok ma mereka… di sekolah & wilayah yang serba kekurangan, mereka adalah kebanggaan saya.
OK, mereka akan tetap memanggil Umar dengan “Tante” sebagai rasa hormat. Respek mereka adalah cerminan respek saya terhadap Umar.
Regards,
Guru Mereka
Tambahan:
Yang nelpon namanya poppy & wildha ( http://www.friendster.com/friesta & wildha32.wordpress.com )
Ikuuuttttttt….ikut manggil Tante, maksudna…heuheuheuheue….
neng iput: boleh, aku nanti manggilnya popon (dari ponakan, hihihiiiii)
pak cep budi: nteu bud, nteu binun, cuma bodor aja, asa ngobrol dengan keponakanku hahahahaaaaaaaaaaa
yah, saya mah udah pasrah lah, dipanggil tante ge