Akibat Pergaulan Bebas
October 25, 2008 by mmlubid
Iya memang, ini akibat pergaulan bebas. Makanya, hati-hati bergaul, hihihiiiii ….
Oiya, sebelum ada oknum yang hobi berhitung (masalahnya, saya kenal beberapa oknum yang jagoan sekali berhitung hal-hal beginian, hahahaaaa), si Aq nggak indent kok, suerrr … suerrrrrrrrr!
Awalnya saya kira gejala maag biasa. Makanya sempat nggak puasa gara-gara maag berat. Meskipun memang aneh sih, biasanya maag saya nggak separah ini. Tapi bulan puasa tahun ini benar-benar berat bagi lambung—jadi teuraaaaabbbbb (sendawa) melulu. Sampai capek. Dan akhirnya si Emak (mungkin bete denger saya teurab dan berkeluh-kesah melulu) bilang, “Ya udah nggak usah puasa dulu, daripada maagnya tambah parah!”
Meskipun nggak puasa, tapi buka puasa bersama jalan terus duooonkkkk, heheee …. Waktu hari pertama saya nggak puasa karena maag itu, sorenya saya bubar dengan geng tante-tante arisan Bandung plus satu orang oom-oom kantoran dan tiga Kubucil di Suis Jalan Riau. Waktu itu, saya bilang nggak puasa karena maag. Lalu, Tante Ibutio langsung menatap perut saya curiga, “Jangan-jangan hamil!” katanya.
Awalnya sih saya sendiri menyangkal. Legian, kalau sedang puasa, jadwal bulanan saya sering mundur. Jadi ya nggak mikir macam-macam, paling juga telat seperti biasa. Ciri-cirinya juga sama—sakit di anu, di anu, dan di anu (anu mana cobaaa). Sempat mabuk Jack Daniel’s rasa kunyit asem juga, meskipun (untunglah) baru satu botol.
Karena nggak enak badan terus (ciri-ciri yang sama kalau saya telat M yang biasa), akhirnya saya sampai beli pil pelancar itu lhuwooo … yang iklannya Lydia Kandouw hihihiii. Tapi, entah kenapa, ada perasaan aneh. Kok khawatir ya, takutnya dugaan Ibutio betul. Akhirnya, saya beli pil itu, tapi beli juga test pack.
Sesuai aturan di test pack, baru besok paginya saya coba. Eh, jengjreeenngggg … kok garisnya dua? Langsung saya bangunin si Aq—menuntut pertanggungjawaban, duonk, hihii …. Eh, dia malah nggak percaya dan nyuruh saya beli test pack lagi. Sebal.
Akhirnya, saya beli satu lagi. Besoknya saya coba lagi. Eh, garisnya tetap dua. Kalau begini, sudah mantap saya menuntut pertanggungjawaban. Lalu, sorenya saya ke RSIA Hermina—karena dekat rumah, dan sebelumnya juga saya periksa di sana (Sayang si Aq saat itu nggak bertanggung jawab, huh! Karena kerjaannya belum beres, jadi nggak sempat nganter saya untuk periksa pertama kalinya. Untuk mengobati rasa kecewa, saya jajan lontong dua biji plus gorengan segede gaban dua biji juga. Hihihiiii).
Dan ternyata memang ada sebentuk sesuatu yang mirip biji kacang waktu di-USG. Kata dokter (dan dari kalender kehamilan bonus dari test pack), umurnya baru sekitar enam mingguan, ukurannya masih sekitar dua sentimeter. Waktu periksa lagi di kalender kehamilan, ternyata peristiwanya berlangsung sebelum atau pas honeyweek itu (waks, kalau sebelum, kasian juga ya si bayi, dibawa arung jeram segala, hihiii).
Orang lain mungkin langsung bersuka cita, kalau saya sempat bengong dulu. Soalnya, memang nggak disangka-sangka secepat ini. Awalnya kan saya memang pengen jalan-jalan yang jauh dulu sama si Aq (tapi dia bilang, nggak apa-apa, nanti jalan-jalannya bertiga hehe). Ditambah lagi, seminggu setelah nikah, saya periksa ke dokter kandungan dan ternyata ada kista berdiameter dua cm. Dokternya cuma kasih resep vitamin, dan setelah diperiksa sebulan kemudian (sebelum honeyweek), kistanya sudah bersih dan si dokter bilang “Rahimnya sehat, pengantin baru, kalau mau punya anak usaha sendiri dulu aja yaaa!” (Ya iya atuh Dok, masa’ minta tolong orang lain, weeeeeee ….)
Yang bikin heran, sepertinya si Emak dan si Papap biasa-biasa aja dengernya. Yang heboh malah yang lain—tetangga-tetangga, teman-teman saya, dan lain-lain. Tapi kalau ibu mertua sih senang sekali, soalnya ini calon cucu pertama dari anaknya semata wayang.
Dan nggak seperti orang lain, saya jarang banget mual dan muntah. Yang muntah hebat cuma sekali, itu juga karena masuk angin (waktu itu memang nggak sengaja telat makan). Nggak pengen yang asem-asem juga, meskipun waktu ke rumah si Aq, ibu-ibu tetangganya hebohhhh banget menyumbangkan mangga muda dan jambu. Terus, waktu datang lagi, ibu mertua pun sudah siaga menyiapkan bumbu rujak dan mangga muda. Padahal waktu itu saya malah pengen sosis, dan mendingan mangga yang sudah matang, hihihiiii (dasar menantu tak tahu diuntung!).
Yang menyebalkan, saya nggak ngidam macam-macam (Sebal, karena nggak berkesempatan merepotkan si Aq, hahahahaaa). Cuma keinginan yang bisa ditunda atau dibelokkan, seperti pengen makan di AW, pengen sosis, lumpia basah, soto sulung (dan karena nggak ada, soto ayam juga mau), bihun goreng instan (beli sendiri di warung, lalu makannya tertunda karena si Emak masak ikan, hihiii), susu ultra rasa moka, yah, yang ece’-ece’ seperti itulah.
Terus kalau orang lain nggak suka nasi atau makanan lain yang biasa dimakan, kok saya biasa aja ya. Malah tambah suka, hihihiiii …. Cuma penciuman doang yang lebih sensitif, bete banget kalau nyium bau sampah, bau got, dan bau rokok. Si Aq juga jadi korban, karena awal-awal saya ngerasa dia itu bau terus hahahahaa …. Jadi, dia terpaksa rajin mandi (dan selalu saya suruh “Gosok gigi!” tiap dekat-dekat).
Sekarang, umur si bayi sudah masuk sekitar sebelas minggu mau masuk dua belas minggu. Beberapa hari yang lalu sudah kontrol lagi ke dokter, dan katanya si bayi termasuk berukuran kecil (rata-rata sekitar 7 cm, si bayi cuma 5 cm). Dan dokternya bilang, “Ibunya sih kurang makan!” (dan si Aq menyangkal sambil ngetawain, seballllll)
Dan yang sekarang sedang jadi perdebatan, perempuan atau laki-lakikah? Karena si Aq pengen laki-laki, biar rame, saya pengen anaknya perempuan aja, jadi ada topik buat ribut melulu hihihiiii …. (Yah, sebetulnya, mau perempuan atau laki-laki, yang penting normal-sehat-baik hati-nggak nyusahin-dan keren seperti ibunya kan?)
Yang terakhir, berhati-hatilah wahai neneng-neneng, kalau terserang penyakit malaaaaaaaaaassssss banget buat ngapa-ngapain, apalagi buat kerja, seperti saya. Jangan-jangan neneng-neneng hamil juga. Atau oom-oom malas juga, mungkin? Hihihihiiiiiiiiiii ….
(keterangan foto: lihat foto kecil si ibu, waktu kecil aja udah keren, apalagi sekarang …. mudah-mudahan si bayi sekeren ibunya juga hihihiiii)

umar..selamat menjadi calon ibu..semoga dilancarkan prosesnya..hati-hati jangan dibawa arung jeram lagi atuh..hihihi..
[...] » Akibat Pergaulan Bebas Tetap “Waras”! Iya memang, ini akibat pergaulan bebas. Makanya, hati-hati bergaul, hihihiiiii … …. One Response to “Akibat Pergaulan Bebas” … mmlubid.blog.friendster.com/…/akibat-pergaulan-bebas/ – Tembolok – Halaman sejenis [...]
Di jaman sekarang kalo mau bergaul ati-ati, jangan lewat bates bergaul yeee!! inget tuch!!!